SEMARANG — Deby Jannati (16) dan Shona
Mazia (17), siswa SMA Semesta Semarang, Jawa Tengah, membuktikan bahwa
kulit singkong dapat dijadikan bahan karbon aktif. Karbon aktif itu
mampu menyerap 99,98 persen kandungan tembaga dalam air limbah.
Deby
dan Shona, yang mewakili Indonesia, meraih juara pertama dalam ajang
Mostratec di Novo Hamburgo, Brasil, yang berlangsung pada 24-31
Oktober. Ajang itu diikuti siswa sekolah menengah atas dari 22 negara
di Asia, Eropa, dan Amerika Latin. Ada 274 proyek siswa yang
dipertandingkan.
”Biasanya karbon aktif dibuat dari batok
kelapa. Ternyata, kulit singkong yang selama ini kurang dimanfaatkan
juga mengandung karbon,” kata Shona.
Ia secara tidak sengaja
mengetahui dari tugas sekolah temannya bahwa kulit singkong mengandung
59,31 persen karbon. Ia sering melihat karbon aktif digunakan untuk
menjernihkan air di kamar mandi asrama sekolah.
”Saya pikir,
kulit singkong juga bisa dibuat karbon aktif. Selain dapat meningkatkan
nilai ekonomis kulit singkong, pembuatan karbon aktif dari kulit
singkong lebih ramah lingkungan,” kata Shona.
Deby mengatakan,
karbon aktif dari kulit singkong dibuat dengan mengeringkan kulit
singkong, dilanjutkan pada alat semacam oven pada suhu 800 derajat
celsius selama tiga jam. Hasilnya dihaluskan dan diaktivasi dengan
larutan NaOH.
Setelah diuji dengan atomic absorption spectrophotometer,
karbon aktif yang dihasilkan ternyata dapat menyerap 99,98 persen
kandungan tembaga (Cu). Hasil uji laboratorium, sebanyak 20 mililiter
limbah sintetis yang mengandung CuSO4 mampu dijernihkan dengan 2 gram
karbon aktif kulit singkong dalam waktu 40 menit.
”Tidak hanya
untuk penjernih air, karbon aktif juga digunakan untuk obat diare. Kami
ingin ada yang melanjutkan penelitian ini supaya dapat diaplikasikan
dalam kehidupan,” kata Shona. (UTI), KOMPAS.com