TAPAK TUAN — Seekor harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) ditemukan mati di kandang ayam milik M Rajab (45), warga Desa Silolo Kecamatan Pasie Raja, Kabupaten Aceh Selatan.
"Harimau
berjenis kelamin betina itu ditemukan mati di dalam kandang ayam
sekitar pukul 08.00 WIB. Warga menguburkan satwa dilindungi itu," kata
Camat Pasie Raja H Rustam di Tapak Tuan, Senin (16/11).
Sebelum
dikubur, satwa langka ini lebih dulu dibungkus kain putih. Penguburan
tersebut juga disaksikan Kepala Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA)
Safwan, petugas Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), dan Kepala Polsek
Pasie Raja Kabupaten Aceh Selatan.
Diperkirakan, harimau yang
memiliki panjang sekitar 99 cm, tinggi 62 cm, dan panjang ekor 52 cm
itu masuk ke kandang ayam yang berada di belakang rumah M Rajab sekitar
pukul 20.00.
Hewan yang hampir punah tersebut diduga tewas
akibat kehabisan napas karena terlilit tali yang terdapat di dalam
kandang ayam milik warga yang sehari-hari berprofesi sebagai petani
itu.
"Untuk mencegah kemungkinan yang tidak diinginkan,
harimau yang masih berusia muda itu dikubur di halaman rumah M Rajab,"
katanya.
Kepala KSDA Aceh Selatan Safwan mengatakan bahwa
harimau itu tewas akibat kehabisan napas. Pihaknya telah melaporkan
kejadian tersebut ke BKSDA Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
"Kami
sudah melaporkan kejadian ini ke BKSDA provinsi dan diperkirakan masih
ada satu harimau lagi yang berkeliaran di pinggiran Desa Silolo itu,"
katanya.
Selama dua bulan terakhir, gangguan harimau di daerah penghasil pala itu meningkat. Puluhan ternak telah dimangsa raja hutan.
Selain
Desa Silolo, Kecamatan Pasie Raja, sejumlah desa lainnya, seperti Jambo
Apha, Kecamatan Tapak Tuan, dan Desa Jambo Papeun, Kecamatan Meukek,
harimau juga sempat turun ke permukiman.
Kepala Desa Jamboe
Papeun Sasmin (44) mengatakan bahwa harimau telah memangsa lima kambing
milik Tgk Syahabuddin, Tgk Anshari, dan M Nasir Nas, serta 39 ayam dan
itik milik masyarakat lainnya.
"Warga melihat harimau di
ladang ubi yang berada di dusun Kuta Batee yang berjarak sekitar satu
kilometer dari permukiman penduduk. Sebenarnya warga sangat takut dan
cemas untuk berkebun. Namum, aktivitas itu harus tetap dilaksanakan
guna memenuhi kebutuhan sehari-hari," kata Sasmin. BNJ, KOMPAS.com