Vaksin H1N1 Diproduksi Tahun Depan
Influenza Research Centre Bio Safety Level-3 Universitas Airlangga,
Surabaya, Jawa Timur, meluncurkan bakal vaksin H1N1 dan H5N1, Senin
(16/11) di Surabaya. Vaksin H1N1 akan mulai diproduksi November 2010
oleh PT Bio Farma.
Pada acara peluncuran, Rektor Unair Prof Fasich menyerahkan bakal vaksin (seed Menurut Iskandar, bakal vaksin H1N1 akan diuji klinis (clinical Karena jumlah produksi terbatas, kata Endang, vaksin diprioritaskan bagi kelompok masyarakat yang rentan terhadap avian influenza (AI), seperti perawat dan petugas laboratorium. Vaksin Kepala Iskandar Nidom Penelitian Penelitian virus AI dan bakal vaksinnya Peluncuran Karena
vaccine) H1N1 dan H5N1 kepada Wakil Presiden Boediono, yang
menyerahkannya kepada Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih dan
meneruskannya kepada Direktur Utama PT Bio Farma Iskandar.
trial) pada manusia pada Maret 2010. Produksi dan distribusi vaksin
H1N1 dilakukan November 2010 untuk 20 juta dosis vaksin atau
sepersepuluh jumlah penduduk Indonesia.
H5N1 akan diproduksi sesuai kebijakan pemerintah. Jika terjadi pandemi
dan pemerintah meminta produksi vaksin H5N1, PT Bio Farma akan
memproduksi karena teknologi untuk produksi kedua vaksin itu sama.
Laboratorium Avian Influenza Tropical Disease Center (TDC) Unair
Chaerul Anwar Nidom menjelaskan, jika terjadi mutasi virus H1N1 atau
H5N1, strain virus yang digunakan sebagai bakal vaksin akan diganti. ”Keterbukaan informasi atas kejadian infeksi avian influenza sangat diperlukan,” kata Nidom.
mengatakan, nilai proyek pengembangan laboratorium dan fasilitas
produksi vaksin H1N1 dan H5N1 di Kampus C Unair, Mulyorejo, Surabaya,
sekitar Rp 1,3 triliun. Fasilitas produksi berkapasitas 20 juta vaksin
per tahun. Proyek dilaksanakan empat tahun, 2008-2011.
menambahkan, penelitian virus H5N1 untuk dijadikan vaksin sudah
dilakukan sejak 2006. Untuk uji tantang (pengujian calon vaksin pada
hewan) H5N1 menunggu sampel virus dari Departemen Kesehatan sampai 13
Agustus 2009. Saat itu TDC Unair mendapat enam tipe virus H5N1.
H1N1 lebih mudah karena TDC Unair bisa mendapat banyak sampel virus
dari klinik. Setelah diuji tantang, bakal vaksin siap diuji klinis dan
mulai diproduksi massal.
dilakukan di laboratorium seluas 224 meter persegi bernama Avian
Influenza Research Centre Bio Safety Level-3 (BSL-3). Selain terbesar
di Asia, kata Nidom, laboratorium ini unik karena ada ruang uji coba
pada 30 monyet (Maccaca fascicularis). Penelitian di laboratorium sangat komprehensif.
bakal vaksin ini, menurut Boediono, adalah wujud kemandirian Indonesia.
Sebagai warga dunia, Indonesia harus aktif menangani serangan penyakit
menular yang sangat cepat menyebar. Apalagi, sebagai negara tropis,
Indonesia sangat rentan sebagai tempat berbiak strain dan mutasi virus baru.
di garis depan peperangan melawan penyakit menular, lanjutnya,
Indonesia punya kesempatan menguasai teknologinya. Karena itu,
Indonesia sebaiknya tak menggantungkan diri pada laboratorium di luar
negeri. ”Indonesia juga berkewajiban membagi pengetahuan kepada dunia
sebab wabah penyakit menular adalah masalah dunia, tetapi dalam
kerangka saling menguntungkan,” katanya. (INA), KOMPAS.com
kirim ke teman | versi cetak | Versi PDF
Visitors :826021 Org
Hits : 2701013 hits
Month : 8066 Users


