Jakarta, Menkokesra.go.id : Presiden menginginkan dana tanggap darurat Rp 100 miliar yang telah dikeluarkan pemerintah pusat untuk menangani dampak gempa di Padang mengalir cepat tanpa ada hambatan birokrasi.

"Yang penting uang itu betul digunakan, jangan ada menyimpang ke sana kemari. Itu neraka, dosanya besar," katanya.
"Dana Rp 100 miliar harus mengalir, jangan ada birokrasi lagi. Ini darurat, kecepatan penting," katanya menegaskan.
Meski
birokrasi dinomorduakan demi kecepatan untuk mengalirkan dana dalam
kondisi tanggap darurat, Presiden mengingatkan, dana bencana itu harus
dipakai sebagaimana mestinya tanpa ada penyelewengan.
Ucapan
Yudhoyono itu langsung disambut tepuk tangan puluhan warga yang
menyimak arahannya. Namun, Kepala Negara juga mengingatkan agar
masyarakat tidak mudah curiga kepada pemerintah dalam hal penggunaan
dana bencana.
Dalam arahannya, Presiden menyebutkan dana tanggap
darurat yang disediakan pemerintah sebesar Rp 100 miliar untuk segala
kegiatan menyelamatkan jiwa dilakukan dalam waktu dua bulan. Namun,
apabila tahap tanggap darurat bisa selesai kurang dari dua bulan, maka
tahap rehabilitasi dan rekonstruksi dapat segera dimulai dengan dana
baru yang besarnya akan ditentukan kemudian oleh pemerintah.
Dalam
arahannya Yudhoyono juga meminta kepala daerah mulai dari gubernur,
bupati/walikota untuk langsung turun bekerja, meninjau daerah terkena
bencana dan memenuhi kebutuhan para pengungsi. "Saya tidak suka dalam
keadaan begini pemimpin malah di belakang meja, tidak turun dan bekerja
mengatasi solusi," katanya.
Menurut dia, dalam keadaan darurat
bencana, masyarakat harus ditenangkan dengan cara pemimpin menunjukkan
bahwa mereka bekerja. Yudhoyono juga meminta agar para pejabat daerah
terus-menerus memberi penjelasan kepada publik tentang tahap penanganan
bencana dan pemulihan kondisi.
Sebagai contoh, Presiden
mengatakan, gubernur dan bupati/wali kota seharusnya bisa menjelaskan
kepada warga agar tidak perlu membeli BBM dalam jumlah berlebihan
karena stok BBM di kota Padang dan sekitarnya cukup aman.
Di
semua SPBU yang dilewati oleh rombongan presiden dalam perjalan dari
Padang ke Pariaman, antrean warga yang berebut membeli BBM mencapai 2,0
km. Bahkan, beberapa SPBU harus tutup karena kehabisan persediaan
bensin.
Presiden mengatakan, ia telah memerintahkan Gubernur Sumbar dan Wali Kota Padang untuk memberi penjelasan kepada publik agar tidak panik membeli BBM karena sebenarnya persediaan cukup. (KOH)
Visitors : 1232210 Org Hits : 8314356 hits Month : 4782 Users Today : 445 Users Online : 16 Users
|