Pengakuan kekerasan pada pelaksanaan pelatihan Paskibrakan DKI Jakarta angkatan 2010 juga disampaikan korban putra.
Dalam
dokumen pengakuan para korban yang didapatkan VIVAnews, setelah lolos
seleksi, seluruh calon anggota putra Paskibraka DKI Jakarta, dikumpulkan
di GOR Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan, pada 3 Juli
2010.
Peserta kemudian dikumpulkan di kantor institusi pemerintah
dekat GOR Someantri untuk sarapan. Kemudian seluruh barang bawaan
mereka dikumpulkan senior.
Seluruh peserta kemudian dibawa ke Cibubur menggunakan bus dengan mata tertutup dengan menggunakan handuk.
Setelah
tiba, peserta langsung mendapat sambutan dengan perintah jalan jongkok
sebagai tradisi selamat datang. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan
tensi.
Mereka kemudian diminta untuk push up dan baru dapat
berhenti setelah menetes 20 keringat. Kejadian ini berlanjut dengan
gulingan, jungkir balik, dan merangkak di lapangan rumput.
Pada
sekitar pukul 14.00-15.00 WIB, calon Paskibraka putra diminta untuk
membuka seluruh pakaian mereka. Mereka kemudian dikumpulkan dan berbaris
di depan pintu kamar mandi.
Di sela-sela mereka mandi, sejumlah
senior memerintahkan mereka untuk melakukan push-up dingin. Ini
dilakukan dalam keadaan tanpa busana dan bertumpuk hingga empat orang,
sambil disirami air.
"Ini dia yang namanya push up dingin, enak nggak," ujar korban menirukan ucapan senior mereka.
Pada
hari kedua dan ketiga pada saat mandi siang dan sore kejadian serupa
tetap terjadi. Para peserta selalu menuju ke kamar mandi dalam keadaan
tanpa busana.
Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI),
Hadi Supeno, memastikan kesaksian ini memang benar adanya. Keterangan
ini disampaikan orangtua korban kepada KPAI. Karena itu KPAI mendesak
Dinas Olah Raga Daerah DKI Jakarta untuk bertanggungjawab dan meminta
maaf. (adi) VIVAnews
Visitors : 1232143 Org Hits : 8314045 hits Month : 4780 Users Today : 446 Users Online : 15 Users
|